Dimana Hati Nurani Mu Wahai Para Pejabat

Written By Link on Kamis, 23 Juni 2011 | 01.19

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Dimana Hati Nurani Mu Wahai Para Pejabat »
Di Arab pendudukmu di pancung
Di Malaysia pendudukmu dianiaya hingga cacat permanen
Di Hongkong meningkatnya angka depresi dan bunuh diri 
Mereka kalian anggap pahlawan devisa tapi tak ada perlindungan sama sekali.
Wahai Para Pejabat » Belajarlah dari Australia » Mengutip Dari Opini Wong Kam Pung "TKI dan Sapi Australia"
Kalau sapi yang jelas-jelas binatang saja diperhatikan hak-hak kebinatangannya, bagaimana pula dengan manusia Australia? Bisa dipahami mengapa Australia begitu cerewet menekan Indonesia agar membebaskan warga negaranya yang dihukum di penjara Indonesia. Padahal, kita tahu, orang-orang Australia yang dihukum di Bali itu sudah terbukti terlibat mafia narkotika internasional.

Apa pun, kita perlu belajar dari komitmen dan kepedulian pemerintah Australia terhadap warga negaranya, bahkan terhadap sapi-sapinya yang dikirim ke Indonesia. Dan memang negara seharusnya berusaha melindungi warganya semaksimal mungkin. Berapa pun harganya!

Lain Australia, lain pula Indonesia. Manusia-manusia Indonesia yang bekerja di negara lain, khususnya Arab Saudi dan Malaysia, sudah jelas bukan binatang sekelas sapi. Mereka manusia-manusia yang punya hak hidup, human rights, yang harus dilindungi dan dihormati. Pemerintah Indonesia harus tegas, berani mengambil risiko, ketika ada pekerja asal Indonesia (TKI) yang terancam kehilangan nyawa.

Kasus hukuman pancung yang dialami almarhumah RUYATI akhir pekan lalu kembali menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tidak berdaya. Gagal, gagal, dan gagal melindungi nyawa manusia Indonesia di Arab Saudi. Kita baru terkejut ketika Ruyati sudah dipancung. Sudah jadi mayat, tinggal nama. Ironisnya, pemerintah Indonesia pun ternyata baru tahu bahwa Ibu Ruyati ini dieksekusi sesuai dengan hukum yang berlaku di Saudi.

Tak guna kita marah-marah pada Arab Saudi, unjuk rasa di kedutaan mereka, teriak-teriak, ancam sana-sini, dan seterusnya. Nasi pun sudah jadi bubur. Ruyati sudah tak ada lagi di dunia. Kita layak malu pada Australia yang habis-habisan membeli SAPI-SAPI mereka, sementara Indonesia selalu alpa membela manusia-manusianya yang terpaksa bekerja di luar negeri sebagai pembantu, kuli bangunan, dan pekerja-pekerja kasar.

Apa boleh buat. Harus diakui, harga dan derajat manusia-manusia Indonesia di luar negeri sudah jatuh hingga titik terendah. Pekerja rumah tangga di Saudi rupanya dianggap sebagai budak belian yang bisa diperlakukan semau-maunya oleh majikan. Dan, sayang sekali, pemerintah Indonesia sejak dulu tak punya komitmen untuk menghentikan pengiriman TKI-TKI yang jadi kuli-kuli kasar.
Jadi ingat kata-kata Presiden Sukarno »
KITA SUDAH MENJADI BANGSA KULI, DAN KULI DI ANTARA BANGSA-BANGSA! 

Rizkyzone 23 Jun, 2011


--
Source: http://www.rizkyzone.com/2011/06/dimana-hati-nurani-mu-wahai-para.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar